Bamsoet Dorong Aksesoris Motor Aftermarket Lokal Kuasai Pasar, Peluang Emas atau Cuma Wacana di 2026?

Kabar dari Senayan lagi rame dibahas anak-anak motor: Bamsoet alias Bambang Soesatyo, yang selain dikenal sebagai pejabat publik juga akrab banget sama dunia otomotif lewat IMI, kembali angkat suara soal pentingnya aksesoris motor aftermarket lokal jadi tuan rumah di pasar sendiri. Statement ini bukan basa-basi doang, soalnya bicara soal industri yang muternya duit gede tapi selama ini banyak dikuasai barang impor, terutama dari China yang harganya sering bikin produk lokal kalah saing di rak toko variasi.
Buat teman-teman yang sering wara-wiri ke toko variasi di Jalan Magelang atau kawasan Klewer buat cari behel, spion custom, atau lampu LED tembak, pasti ngeh sendiri kalau rak-rak itu didominasi barang bertuliskan made in China. Bukan berarti jelek semua, tapi soal after-sales, garansi, sampai kesesuaian standar keselamatan sering jadi tanda tanya. Nah dorongan Bamsoet ini intinya pengin produk lokal naik kelas, bukan cuma jadi tempelan murah di pasar malam, tapi punya kualitas yang bisa nyaingin bahkan diekspor.
Peluangnya sebenarnya gede banget kalau mau jujur. Pasar motor Indonesia itu salah satu terbesar di dunia, dan budaya modifikasi di sini nggak ada matinya. Dari komunitas skutik matic sampai bebek retro, semua doyan pasang aksesoris tambahan. Belum lagi tren custom part 3D print dan komponen CNC yang makin naik daun bikin banyak UMKM lokal punya kesempatan masuk ke segmen yang lebih premium, nggak cuma jualan aksesoris receh seharga puluhan ribu rupiah.
Tapi ya namanya wacana, tantangannya juga nggak kalah berat. Produk lokal sering kalah harga karena skala produksi belum sebesar pabrikan luar yang bikin barang jutaan unit sekali cetak. Belum lagi soal standar SNI yang kadang bikin biaya produksi UMKM membengkak, sementara barang impor ilegal tanpa standar malah bisa masuk lebih murah lewat jalur abu-abu. Kalau pemerintah cuma dorong semangat tanpa bantu insentif produksi atau perketat impor ilegal, target kuasai pasar nasional bisa jadi cuma jargon di podium doang.
Dari sisi konsumen, sebenarnya banyak juga yang udah mulai pilih produk lokal karena worth it. Contohnya knalpot custom bikinan bengkel lokal Jogja yang harganya di kisaran Rp350 ribu sampai Rp1,2 juta tergantung bahan, itu kualitasnya udah lumayan bisa disandingkan sama merek luar yang harganya bisa dua sampai tiga kali lipat. Belum lagi variasi seperti windshield custom, dudukan HP magnetic, sampai jok custom yang makers-nya banyak nongol di marketplace dengan harga bersaing.
Kalau bicara realistis buat 2026, momentum ini sebenarnya pas banget dibarengi tren belanja online yang makin masif. UMKM aksesoris lokal yang jeli main di marketplace dan media sosial punya peluang lebih besar buat langsung ketemu konsumen tanpa harus lewat distributor berlapis yang bikin harga naik. Tinggal soal konsistensi kualitas dan branding yang harus dibenahi biar nggak dianggap sebelah mata dibanding barang impor.
Buat teman-teman yang punya bengkel modifikasi kecil-kecilan atau lagi merintis usaha aksesoris motor, momen dorongan dari Bamsoet ini bisa jadi angin segar buat cari perhatian pemerintah soal insentif atau kemudahan sertifikasi. Tapi jangan cuma nunggu bantuan turun dari langit, karena persaingan pasar tetap butuh produk yang emang niat digarap serius, bukan sekadar ikut tren doang.
Ujungnya, target kuasai pasar nasional buat aksesoris motor aftermarket lokal di 2026 ini punya potensi yang nyata, asal didukung kebijakan yang konsisten dan pelaku usaha yang mau naik kelas. Kalau cuma jadi wacana politik tanpa follow up, ya rak-rak toko variasi bakal tetap didominasi barang impor kayak sekarang.
