Suzuki GN160 vs Kawasaki W175: Duel Motor Retro Klasik 150cc-an, Mana yang Lebih Worth It Buat Harian?

Belakangan ini segmen motor retro klasik lagi seru-serunya dibahas di grup-grup WhatsApp komunitas otomotif. Kalau dulu yang eksis cuma Kawasaki W175 sendirian tanpa lawan sepadan di kelas 150-175cc bergaya jadul, sekarang muncul nama baru: Suzuki GN160. Motor ini bawa aura cruiser klasik ala GN125 legendaris, tapi dibungkus mesin lebih plong. Nah, karena saya sering ditanya teman-teman soal mending pilih yang mana buat dipakai harian, mending saya bedah satu-satu sambil ngopi santai kayak biasanya.
Kawasaki W175 ini sebenarnya bukan pemain baru. Motor ini udah wara-wiri di Indonesia sejak 2018 dan sampai sekarang di 2026 masih eksis dengan beberapa varian, mulai dari standar, Special Edition, sampai Cafe Style yang lebih sporty dengan setang jepit dan jok single seat. Desainnya jujur aja identik banget sama motor-motor Kawasaki W series jadul tahun 60-70an, komplit dengan tangki teardrop, lampu bulat, dan spakbor depan yang melengkung anggun. Buat teman-teman yang suka gaya timeless dan gak neko-neko, W175 ini jagonya.
Suzuki GN160 di sisi lain lebih ke arah cruiser santai, posisi duduk agak nunduk ke belakang dengan setang lurus khas motor jalan-jalan sore. Kalau W175 kesannya lebih ke gentleman rider yang rapi, GN160 ini lebih ke vibe cruiser yang cocok buat teman-teman yang suka riding santai sambil selonjoran kaki. Mesinnya 160cc SOHC silinder tunggal, tenaganya diklaim sekitar 10-11 PS, sedikit di bawah W175 yang mengandalkan mesin 177cc dengan tenaga sekitar 13 PS. Bedanya emang gak jomplang banget, tapi kalau ngomongin akselerasi buat nyalip di jalan Jogja yang macetnya makin menjadi tiap tahun, W175 sedikit lebih ngacir.
Bandingin Spek dan Rasa Berkendara Harian
Kalau dilihat dari sisi konsumsi bahan bakar, dua-duanya sama-sama irit karena mesinnya masih silinder tunggal berkapasitas kecil, klaim di angka 40-45 km/liter buat pemakaian harian normal. Bedanya lebih ke karakter mesin: W175 punya getaran khas mesin lawas yang bikin nostalgia, sementara GN160 terasa lebih halus karena teknologinya relatif lebih modern meski tetap dibalut desain klasik. Buat teman-teman yang naik motor buat komuter tiap hari lewat jalanan Jogja yang penuh tikungan dan tanjakan kecil, GN160 terasa lebih ringan dikendalikan karena bobotnya sedikit lebih ringan dibanding W175.
Soal harga, ini yang paling sering ditanyain. Kawasaki W175 di diler Jogja dan sekitar Jateng saat ini dibanderol mulai Rp 33 jutaan OTR untuk varian standar, sementara Special Edition dan Cafe Style bisa tembus Rp 36-38 jutaan tergantung promo diler. Suzuki GN160 sebagai pemain baru biasanya masuk dengan strategi harga yang lebih agresif, saya perkirakan OTR-nya di kisaran Rp 30-32 jutaan buat menggoda konsumen yang penasaran sama motor retro tapi budget-nya pas-pasan.

Nah, yang jadi pertimbangan serius menurut saya justru bukan di harga beli, tapi di purna jual dan ketersediaan spare part. W175 udah delapan tahun lebih hidup di jalanan Indonesia, komunitasnya udah gede, bengkel spesialis udah banyak, dan harga jual second-nya cukup stabil karena banyak yang cari. GN160 masih anak baru, jadi wajar kalau teman-teman agak was-was soal ketersediaan sparepart di bengkel-bengkel kecil, apalagi kalau tinggal di daerah yang bukan kota besar.
Kalau saya disuruh milih buat pemakaian harian jangka panjang, saya condong ke Kawasaki W175 karena faktor kematangan produk dan rasa aman soal purna jual. Tapi buat teman-teman yang emang suka jadi trendsetter, gak masalah jadi yang pertama pakai motor baru, dan pengen tampil beda di parkiran kampus atau kantor, Suzuki GN160 ini worth dicoba, apalagi kalau harganya emang lebih ramah di kantong. Intinya, dua-duanya sama-sama asyik buat gaya harian santai ala anak retro, tinggal disesuaikan sama prioritas teman-teman, mau aman dan mapan atau mau tampil beda dan hemat di awal.



