Latest
Apa Iya Motuba (mobil tua bangka) Eropa itu rewelan ? Fakta atau Sekedar Opini ?
Kata beberapa mekanik sih, hal itu disebabkan karena mobil eropa itu rewel (perawatan susah) plus spare part yang mahal. Alhasil konsumen enggan untuk mengoleksinya, ujung-ujungnya harga jadi anjlok. Beda dengan mobil Jepang yang cenderung lebih gampang perawatannya selain itu juga spare part lebih mudah didapatkan dan dengan harga yang murah,… katanya.
Last, sekedar opini saya saja. cmiiw…
yang mau berbagi opini, monggo, saya persilahkan.
Terindikasi Mengidap Hydrochepalus, Honda Sonic Bakalan Susah Laku ?
Jika memang benar mengidap hydrochepalus maka opini yang membuncah akan harapan munculnya ayago berlabel sayap kepak dengan tampilan ganteng maksimal pupus sudah. Enggak jadi joss… dan bisa jadi kisah pilu pengidap hydrochepalus pendahulu bakalan terulang pada ayago baru ini. Enggak bakal laku…
Solusi Mengatasi Gadget tidak Bisa di-charge aka. Baterai tidak Ngisi

Bukan rahasia kalau gadget sekarang, apakah itu tablet maupun smartphone, pasti boros akan daya. Boros baterai, hingga kebutuhan akan powerbank pun kian hari semakin meningkat saja. Hal ini tentu tak lepas karena aktifitas dengan menggunakan gadget sendiri sangat tinggi. Bahkan boleh dibilang gak ada mode sleep pada gadget jaman sekarang, always standby.
Masalahnya muncul manakala gadget tiba-tiba tidak bisa di-charge, logo baterai hidup-nyala tapi daya pada gadget tidak bertambah sekalipun sudah di-charge dalam kurun waktu yang lama. Kalo sudah begini, segala macam powerbank pun tiada guna, stuck, gak cukup ngangkat untuk menghidupkan gadget.

So, what’s the problem ? besar arus (I) dengan satuan ampere (A) pada cherger yang terlalu kecil bisa jadi menjadi salah satu sebab gadget tidak bisa di-charge. Dimana arus (I) ampere tidak cukup besar/kuat untuk menjejalkan tegangan kedalam baterai. Seperti kita ketahui bahwa kebanyakan charger bawaan pabrik memiliki arus (I) ampere (A) yang sangat kecil, yaitu berkisar diangka 300mA (0.3Ampere) sampai 750mA (0.75Ampere). Jarang sekali kita menemukan charger bawaan dengan kapasitas arus (I) ampere (A) diatas 1.0Ampere. Padahal disisi lain spesifikasi gadget makin hari semakin tinggi, yang tentunya membutuhkan dukungan daya yang tinggi pula. Baterai sering habis, sering nge-charge. Jika charger trouble, jelas itu masalah.

Solusinya sebenarnya gampang saja. Kita cukup mencari charger dengan besar arus (I) ampere (A) tinggi, 1.5A sampai 3.0A cukuplah. Biasanya besaran segitu bisa kita dapati pada charger versi lama. Coba cari saja, kali aja ada charger second tak terpakai yang masih bagus. Kalau tidak ada, kita bisa membelinya ditoko-toko elektronik terdekat. Jika masih juga tidak ditemukan, DIY-nan !!!… Do It Yourself, gawe dewe, bikin sendiri. Silahkan mencobanya, semoga berhasil.
Last, cmiiw…
#artikel terkait di sukanyamotor.com
Solusi Gadget tidak Bisa Nge-Charge aka. tidak Bisa Ngisi
Charging gadget (newtrent.com)
Tips singkat aja. Jika suatu ketika gadget brader semua tiba-tiba mogok di-charge, alias daya baterai gak nambah sekalipun waktu nge-charge sudah berjam-jam atau dengan kata lain tidak bisa ngisi ke baterainya, maka cobalah untuk mengganti charger dengan arus/ampere (A) yang lebih tinggi.
Ampere kecil (gadoga.com)
Kebanyakan charger yang beredar dipasar atau standard bawaan pabrik biasanya besar arus/ampere (A) hanya sekitar 500mA atau 0.5Ampere saja, terlalu kecil. Ketika gadget (tablet/smartphone) masih seger alias masih relatif baru mungkin lancar-lancar saja nge-charge-nya, masalah baru muncul ketika gadget mulai berumur. Pada kondisi tersebut butuh dorongan arus/ampere (A) lebih untuk memasukkan tegangan ke dalam baterai agar bisa ngisi.
Ampere lebih besar (xrismantoz.wordpress.com)
Charger dengan arus/ampere (A) yang lebih besar, 1Ampere, 1.5Ampere… dapat kita jumpai pada charger2 lawas. Tapi klo memang brader semua sudah gak nyimpen charger-charger bekas itu, coba deh cari di toko-toko elektronik. Kalau belum juga nemu, DIY-an saja (DIY=Do It Yourself) atau nggawe dewe. Semoga berhasil.
Last, cmiiw…
Strategi Melawan N-max, Melokalkan PCX150 atau Mendatangkan Jagoan Baru ?
Yamaha NMax 150, predator baru dari Yamaha
Masih ingat kasus beberapa tahun lalu saat pertama kali Yamaha R-15 masuk ke pasar Indonesia ? ketika itu Honda CBR150, yang masih cbu, jadi nampak overprice sekali. Terlepas dari gelar cbu dan mesin dohc yang dibawanya. Orang melihat sama-sama kubikasinya, sama-sama full fairingnya, sama-sama dari motor sport… tapi kenapa harga bisa terpaut Rp. 10jt (lebih) ? fyi, varian CBR150 termahal ketika itu ada dikisaran Rp. 42jt sementara Yamaha R15 ada direntang harga Rp. 29jt-an. Whats wrong ? it’s so redicolous… karena dengan harga segitu orang bisa membawa pulang motor dengan kubikasi yg lebih besar. Yup, Kawasaki 250RR mono ada direntang harga yang nyaris sama dengan Honda CBR150 (cmiiw).
Untungnya AHM segera insyaf melihat kondisi tersebut, dan akhirnya merekapun melokalkannya. Maka jadilah Honda CBR150 lokal dihargai sama dengan Yamaha R15, Rp. 30jt-an. Meskipun langkah tersebut sedikit banyak mengorbankan perasaan para pemilik Honda CBR150 lama. Kok bisa ? ya iyalah bayangkan jika kemarin kita beli CBR150 harga Rp. 42jt terus kemudian tahu2 AHM menjualnya dengan harga Rp. 29jt sekian, apa gak nyesek itu ? praktis harga rondo CBR150 lawas bakalan anjlok seanjlok-anjloknya. Terus dimana itu tagline SATU HATI nya ?. ah sudahlah, bisnis is bisnis. sementara abaikan dulu masalah perasaan, hehe…
Dengan langkah tersebut alhasil Honda CBR150 menjadi sangat kompetitif. Harga ‘sama’ tapi dengan fiture terbaru plus spek mesin DOHC. Bandingkan dengan Yamaha R15 yg secara gen masih turunan generasi lama yg sudah rilis beberapa tahun lalu di India, serta spek mesin yang ‘cuma’ sekelas SOHC. Overall Honda CBR150 lebih unggul jika dibandingkan dengan Yamaha R15 (imho).
Hal serupa ternyata terjadi kembali, kali ini korbannya adalah Honda PCX150. Manakala YIMM mengeluarkan Yamaha NMax 150 dengan harga Rp. 27jt-an, praktis Honda PCX150 jadi terlihat kemahalan dengan harga yg ada di angka Rp. 39jt-an. Apalagi Yamaha NMax juga dibekali segudang fiture, dari lampu LED, teknologi VVA, rem ABS, hingga dual cakram… yang beberapa diantaranya tidak didapati pada Honda PCX150. Boleh dibilang Honda PCX150 kalah segala-galanya.
Menarik ditunggu bagaimana respon AHM dalam menyikapi hal ini. Tidak mungkin mereka tetap keukeuh dalam pendiriannya yang menganggap enteng atas kehadiran Yamaha NMax 150, karena kenyataannya secara penjualan Yamaha NMax 150 mengalami peningkatan yang signifikan. Bukti terakhir adalah ludesnya 1000 Yamaha NMax 150 non ABS dalam waktu 12 jam.
Setidaknya (imho) ada dua pilihan yang bisa ditempuh oleh AHM, pertama dengan melokalkan Honda PCX150 seperti halnya yang terjadi pada CBR150. Sehingga harga bisa ditekan. Berarti lagi2 harus ‘menyakiti’ customer dunk ? yaa… mau gimana lagi ? daripada gak laku, hehe…
Kedua, dengan mendatangkan jagoan baru. Taruhlah Honda forza 125, dimana bentuknya lumayan ‘dapet’ dengan selera orang indonesia. Tapikan kubikasinya cuma 125cc ? lho AHM kan punya vario 150, tinggal aplikasikan saja mesinnya ke Forza 125, jadi deh Forza 150, hee…
Last, cmiiw…
Ketika OS Desktop Berulah, Tablet Bisa Jadi Alternatif
Pernah ngalamin yang namanya fb ngadat, gmail ngadat, sampe wp-admin ngadat ?… anehnya ketika dibuka lewat tablet via app. android everything is fine. Nah lo, sudah jelas klo biang keladinya ada di dekstop. Kena malware kah ? virus ? or… mboh, yang jelas bahwa semua mua yang berkenaan dengan wilayah administrator kagak bisa diakses. IP blocked kah ? bisa jadi. Sementara masih dalan proses investigasi, hehe…
Payah emang, mumpung mas mood lagi dateng, niatnya mo bikin postingan di lapak baru, lha kok malah dekstop nya sulaya, ngajak gelut. Gimana gimana klo nulis artikel via dekstop or laptop itu lebih powerfull, lebih friendly, lebih enjoy lah. Apa2 bisa. Sementara klo via gadget masih terbatas bingittt… lha ini buktinya, artikel kok tulisan tok, gak ada gambar2e blass… hehe.. sorry bray. stay tune aja lah pokoknya.
last, cmiiw…
Bagaimana dengan “sukanyamotor.com” ?
Yamaha-motor.co.id itu terlalu ‘Flashy’, Super Lemot & Kontra Marketing
Laman situs yamaha-motor.co.id
Entah itu karena koneksi saya yang emang lemot ataukah memang situsnya yang lagi ramai. Hanya saja ketika saya membuka situs Kawasaki di Kawasaki-motor.co.id halaman langsung ‘clap’, terbuka gak pake lama. Terus kalo dibilang lagi ‘rame’ kok dari kemarin itu situs lemot banget ? Apa emang rame terus ? ah, mosok sih ? wong homepage si penguasa market, welovehonda.com & astra-honda.com, aja gak sebegitu lama kok.
Lalu kenapa bisa lemot bin lambat gitu ngebukanya. Entahlah, yang jelas dibandingkan dengan situs-situs produsen motor yang lain, memang yamaha-motor.co.id nampak lebih futuristik. Halaman full animasi, dinamis dan gak ngebosenin. Cuman kalo lama ngebukanya, lemot apalagi sampe stuck buat apa ? buang-buang energi saja. Ibarat mo beli motor, daripada inden terus-terusan pake lama mending beli yang lain saja, mending lihat produk2 kompetitor di halaman sebelah, toh yang di cari customer bukan tampilan homepagenya melainkan info spesifikasi & harga produk yang dijual. Nah lo, dari sini saja Yamaha Indonesia sudah kalah langkah, eman-eman produknya dunk. Sangat kontra marketing, alias gak ngejual.

Butuh waktu yang lumayan untuk ngebukanya
Disinyalir karena halaman yang terlalu ‘flashy’ (meskipun gak semua berbasis flash) penuh animasi, full gambar dengan bahasa pemrograman yang mungkin agak belibet (kurang ringkas) dan (mungkin) ditambah dengan kemampuan server yang kurang mumpuni, menjadikan situs situs yamaha-motor.co.id begitu berat untuk dibuka.
Anyway, tampilan memang bukanlah faktor yang layak untuk dikesampingkan, namun mengorbankan sisi performance (loading) pada sebuah situs yang misi utamanya adalah untuk jualan, saya rasa itu bukanlah hal yang tepat. Ah, sekedar ulasan dari seorang blogwalker dan bukan praktisi IT, xixi…
Last, cmiiw…
Apakah Yamaha Mio M3 Bener-bener Laris Manis ?
Ramai di bloghosphere memberitakan bahwa matic entry level terbaru gacoan Yamaha, Mio M3 125, laris manis di pasaran. Setidaknya demikian beberapa judul yang saya temui dibeberapa media. “Mio M3 Laris Manis di Bandung”… “Mio M3 Laris Manis di Medan”… dan lain-lainnya. Tentunya lengkap dengan data rekapan jumlah penjualannya. Tapi apa iya sih ?
Mungkin bisa jadi benar, mengingat value motor ini secara pribadi memang lebih unggul dari kompetitor. Hanya saja secara faktual kenyataan di lapangan, lapangan sekitar saya tentunya, yang terlihat kok masih sepi-sepi saja tuh. Jarang banget lihat dengan mata kepala sendiri, palingan cuman satu dua ekor mio m3 saja.
Beda banget sama Vario 150, lebih sering ngeliatnya. Apalagi semenjak tetangga beli 2 ekor Vario 150 sekaligus, wkwkwk… Tapi beneran boleh dibilang sejak dirilis ke pasar hampir tiap hari bisa lihat Vario 150, sementara untuk Mio M3 dalam dua haripun gak mesti lihat penampakannya, meskipun itu motor sudah di launching beberapa bulan yang lalu. Pertanyaannya, beneran laku gak sih ? yah, sekedar kesimpulan berdasakan pengamatan di lapangan.
Last, cmiiw…















