Asuransi Motor Wajib 2026: Skutik Harian Bakal Kena Biaya Tambahan Berapa Sih?

Jadi begini, teman-teman. Belakangan linimasa emak-emak sampai bapak-bapak ojol rame lagi bahas soal asuransi pihak ketiga alias Third Party Liability (TPL) yang katanya bakal diwajibkan buat semua kendaraan bermotor, termasuk motor harian yang notabene tunggangan rakyat jelata kayak saya dan teman-teman semua. Wacana ini sebenarnya bukan barang baru, cikal bakalnya sudah ada di UU P2SK yang disahkan beberapa tahun lalu, tapi baru sekarang di 2026 pembahasan aturan turunannya kelihatan makin serius digodok OJK bareng asosiasi asuransi.
Konsepnya sederhana kok, tidak serumit yang dibayangkan. Asuransi TPL ini beda sama asuransi all risk yang biasa nempel di motor kredit baru. TPL itu fokusnya melindungi pihak ketiga, alias orang lain yang jadi korban kalau motor teman-teman terlibat kecelakaan. Jadi misal saya lagi riding santai terus tanpa sengaja senggol mobil orang atau bikin pejalan kaki kesenggol, nah biaya ganti rugi ke korban itu yang ditanggung asuransi, bukan biaya perbaikan motor saya sendiri. Simpelnya, ini bukan proteksi buat motor teman-teman, tapi proteksi buat orang lain dari motor teman-teman.
Nah yang bikin heboh warganet tentu saja urusan dompet. Soalnya kalau ini benar-benar diwajibkan, otomatis setiap motor yang bayar pajak tahunan bakal ada tambahan pos biaya baru, mirip-mirip logika SWDKLLJ yang selama ini sudah nempel di STNK tapi dengan skema dan besaran yang beda. Dari simulasi yang beredar di kalangan pelaku industri asuransi, angka premi TPL buat motor di bawah 150cc kayak skutik harian semacam Honda BeAT, Yamaha Mio, atau Suzuki Nex diperkirakan berkisar di angka Rp60 ribu sampai Rp120 ribu per tahun. Sementara motor dengan kapasitas mesin lebih besar dari itu, termasuk skutik gambot atau motor sport, bisa kena tarif lebih tinggi lagi karena risiko kerusakan yang ditimbulkan biasanya lebih besar juga.
Kalau saya hitung-hitung kasar buat pemilik skutik harian di Jogja atau daerah Jateng lainnya, angka segitu sebenarnya tidak terlalu menggila-gilakan amat dibanding biaya pajak tahunan yang sudah rutin dibayar. Sebagai gambaran, PKB motor matic 125cc keluaran baru di kawasan Jogja-Solo biasanya sudah berkisar Rp200 ribuan per tahun belum termasuk SWDKLLJ. Kalau ditambah TPL sekitar Rp70 ribu sampai Rp100 ribu, ya total pengeluaran tahunan buat urusan legal motor jadi naik, tapi bukan angka yang bikin dompet jebol amat, apalagi kalau dibandingkan sekali servis CVT plus ganti oli yang gampang tembus Rp150 ribu lebih.

Tapi ya namanya wacana, tentu banyak yang masih meragukan soal eksekusinya di lapangan. Pertanyaan paling sering muncul itu soal mekanisme pembayaran, apakah bakal digabung sekalian pas bayar pajak tahunan di Samsat, atau malah jadi produk terpisah yang dijual perusahaan asuransi swasta layaknya asuransi kendaraan pada umumnya. Kalau modelnya digabung ke Samsat, kemungkinan besar prosesnya bakal semudah bayar SWDKLLJ sekarang, tinggal masuk ke total tagihan pajak tahunan. Tapi kalau modelnya dilepas ke pasar bebas asuransi, bisa jadi harganya lebih variatif tergantung perusahaan mana yang dipilih, dan berpotensi ribet juga buat pengecekan kepatuhannya di jalan.
Buat teman-teman yang motornya cuma dipakai wira-wiri rumah-kantor-warung kayak saya, mungkin kebijakan ini kelihatannya bikin ribet di awal. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya ini konsep yang cukup adil. Selama ini kalau ada kecelakaan dan motor kita yang jadi penyebab, korban yang dirugikan sering kali harus berjuang sendiri urus biaya pengobatan atau ganti rugi kendaraan mereka, karena pelaku kadang tidak punya cukup uang buat tanggung jawab penuh. Dengan TPL wajib, minimal ada jaring pengaman biar proses ganti rugi lebih jelas dan tidak berujung damai di tempat yang kadang malah bikin runyam kedua belah pihak.
Sampai artikel ini saya tulis, aturan detailnya termasuk kapan resmi berlaku dan berapa besaran pasti preminya masih dalam tahap pembahasan, jadi belum ada angka final yang bisa saya jamin seratus persen. Tapi ancang-ancang buat nyisihin budget tambahan sekitar Rp100 ribuan per tahun rasanya bukan ide buruk, biar nanti kalau aturannya benar-benar jalan, teman-teman tidak kaget pas lihat tagihan pajak motor tiba-tiba lebih tebal dari biasanya. Yang penting, sambil nunggu kepastian, jangan lupa tetap bawa motor dengan waras di jalan, karena sepintar apapun skema asuransinya, yang paling murah tetap kecelakaan yang tidak pernah terjadi.
